Senin, 07 Mei 2012

Langitpun Menangis

Aku tau aku nggak sendiri, aku tau banyak di luar sana yang mengalami kepedihan sepahit ini, aku yakin banyak diantara mereka yang mendapat lebih pahit dari ini. Tapi ini terlalu berat Tuhan. Aku terlalu capek. Aku letih Tuhaaaaaaan. 
Izinkan malam ini aku menangis, izinkan malam ini aku keluarkan semua kepedihanku bersama langit yang sedang menangis ini. Aku sadar nggak seharusnya aku mengeluarkan air berharga ini hanya untuk orang seperti dia. Mungkin orang-orang akan mencaciku, memakiku jika mereka mengetahui aku telah menangis karenanya. Mereka akan berkata "Bodoh ! Apa kamu tidak menyesal menangisi seseorang seperti dia? Menangisi seseorang yang selalu membuat hatimu gundah? Menangis untuk orang yang 6 bulan lalu telah melukai hatimu?" Mereka memang selalu begitu, tapi aku suka. Itu cara mereka menyadarkanku.
Ya !! Aku memang bodoh, aku terlalu dini untuk mengenal apa yang dikatakan cinta. Hatiku masih belum siap untuk menerima kenyataan seperti ini. Ya !! Dia memang telah membuatku murung, dia telah merusak senyum indah bibir ini, dia yang selalu membuat hatiku tidak tertata. Tapi hati tidak bisa berbohong, aku sayang dia. Aku sayang dia dengan siapa dia. Aku sayang dia dengan tidak memandang apapun, Tuhan. Dan aku terlalu berat untuk melepasnya. 
Tuhan, air mata ini rasanya sudah terlalu banyak keluar, hujanpun telah berhenti. Tapi kenapa hati ini tidak bisa berhenti menyayanginya? Aku letih Tuhan selalu mengalah. Aku capek selalu menjadi yang nomer 2. Aku ingin seperti bidadarinya yang selalu menjadi yang pertama. Aku juga mau menjadi seperti itu !! :'( 

Gundah

Beribu ribu kali, berjuta juta kali aku mencoba menghilangkan perasaan ini. tapi semua yang aku harapkan hanya kosong Tuhan. Kenapa perasaan ini selalu bertambah besar ketika aku mengharapkan yang sebaliknya, Tuhan? Aku nggak berharap banyak tentang dia, aku hanya mencoba berfikir realistis bahwa buku bekas itu biarpun sudah diperbaiki masih akan tetap terlihat kusam, jelek.
Udah banyak bukti kalau kamu emang enggak baik buat aku. Semua orang bilang kalau kamu itu terlalu buruk buat aku, kebusukanmu terlalu jelas di mata semua orang, terutama dimata yang selalu mengamati gerak-gerikmu. Setiap hari mata indah ini selalu bertemu dengan mata beningmu, setiap hari mata ini selalu memperhatikanmu, selalu menangkap tindakan buruk yang kamu lakukan. Mungkin kalau bisa mengeluh mata ini akan berbicara, "aku muak setiap hari hanya mendapati dirimu yang kian lama kian rusak. Mendapati tingkahmu yang semakin hari semakin menjadi, aku muak akan mulut manismu yang selalu kamu tunjukkan kepada semua orang". Tapi tidak, mata ini tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan siapa-siapamu, aku hanya masa lalumu, ya masa lalu pahitmu yang tak layak untuk dikenang. Aku sadar aku tidak bisa mengubahmu menjadi sedikit lebih lurus. 
Semua itu memang bukan salahmu, aku yang salah. Aku yang terus mengusikmu, aku yang terus berharap kepadamu, aku yang tidak bisa menjaga mata ini untuk tidak memperhatikan dirimu. Aku yang terlalu bodoh untuk tetap menunggumu, menunggu seseorang yang jelas-jelas sedang menunggu bidadarinya kembali. 
Sudahlah, aku jenuh membahas tentangmu, ketika aku membahasnya hanya luka yang kudapat, tapi dibalik luka itu tersimpan rindu yang memuncak. Semoga kamu mengerti :')